SALOIPOST.ID, Jailolo – Arifin Pangadi, nama seorang ayah dari balita bernama Afidin Tuafatahira dan suami dari Eva Julianti. Ia menceritakan betapa bahagianya mereka saat mendapat kabar, masuk dalam daftar penerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat.
Arifin sekeluarga diberitahu oleh Sekretaris Desa Marimabati, Kecamatan Jailolo, usai rumahnya di foto pihak Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Disperkim-LH).
“Mereka datang foto waktu itu bulan puasa. Setelah itu Sekdes datang dan memberitahukan kami bahwa di Marimabati ini ada tujuh orang yang akan mendapatkan bantuan rumah tidak layak huni,”tutur Arifin saat ditemui di dalam rumahnya, pekan lalu,
Arifin lalu diajak Sekdes untuk mengikuti rapat pembahasan bantuan tersebut bersama pihak Disperkim dan LH, Pemerintah Desa, serta sejumlah penerima lainnya. Di sana, Arifin mendengar begitu banyak penjelasan termasuk pembuatan fondasi rumah.
“Waktu itu kan mereka perintahkan antar KK, KTP, sama Sertifikat atas nama Arifin Pangadi. Ya itu sudah saya antar. Yang belum ada fondasi diperintahkan untuk buat secepatnya. Jadi karena saya belum punya fondasi, saya usaha sampai ada. Itu hasil jual ayam peliharaan. Dan istri yang bantu saya kerja buat fondasi,”bebernya.
Namun harapan keluarga kecil Arifin Pangadi untuk memiliki rumah baru perlahan-lahan mulai sirna. Bagaimana tidak, ia sekeluarga kembali dikabarkan oleh Sekretaris Desa Marimabati bahwa namanya tak lagi masuk sebagai penerima bantuan tersebut.
“Pak Sekdes datang bilang saya p nama so tarada. Ganti orang di sini sudah. Ya sudah langsung saya patah semangat bagitu.
Istilahnya ini kan rejeki. Ya sudah saya berpikir mungkin ini belum rejeki. Begitulah, hidup kami begini, Pas-pasan,”ucapnya dengan nada datar.
Selain seorang petani, Arifin juga berprofesi sebagai kuli bangunan. Meski begitu, Arifin belum bisa menjalani profesinya sebagai seorang kuli lantaran belum ada proyek. Ia bisa saja mencari pekerjaan di luar sana, namun usia anaknya yang masih balita membuat Ia tak tega meninggalkan anak istrinya di rumah.
“Jadi hari-hari cuman datang di kebun cari bijih pala. Itu sumber untuk makan hari-hari, jual 3 bijih seribu rupiah. Ya satu hari paling dapat 30 ribu rupiah. Ini juga baru pulang, tadi cuman dapat 16 ribu rupiah,”tutupnya.
Penulis: Tim
Editor : Redaksi











