SALOIPOST.id, Jailolo – Beberapa pemuda dan masyarakat Desa Gufasa terlihat sibuk merapihkan beberapa potong bambu yang telah dibuat menjadi obor di depan halaman Mesjid An Nur Desa Gufasa. Malam ini, pada tanggal 17 April 2023 adalah malam ke 27 Ramadan yang diyakini bertepatan dengan malam Lailatul Qadar di tahun ini.
Malam lailatul qadar adalah momentum yang istimewa bagi umat Islam di bulan Ramadan. Pada malam itu, hampir seluruh umat Islam khususnya di Maluku Utara merayakannya dengan menyalakan obor ataupun lilin yang menerangi rumah maupun kampung yang mereka tempati.
Desa Dufasa Kecamatan Jailolo Kabupaten Halmahera Barat adalah salah satu desa yang turut merayakan malam yang istimewa ini. Seperti yang dikatakan oleh Salah satu Pemuda Desa Gufasa Fachri M Taher bahwa di desanya telah menyiapkan 220 buah obor yang disebarkan diseluruh Jalan Utama.
“Jadi Gufasa ini adalah salah satu kampung tua di Jailolo yang dulunya sangat kental dengan nuansa keagamaan,” ucap Fachri.
Fachri menuturkan, dalam literatur sejarah yang ia ketahui bahwa Kampong Gufasa telah dibentuk mulai pada tahun 1468. Saat itu, Sultan Ternate Zainal Abidin Syah tengah mengutus salah satu pemuka agama yang dikenal dengan nama Kolano Podo untuk menyiarkan agama Islam di Jailolo termaksuk di Desa Gufasa.
Diutusnya Kolano Podo, dengan tujuan penyiaran agama Islam tengah membentuk karakter masyarakat yang taat pada agama di saat itu. Hal demikian menjadikan malam Lailatul Qadar yang dirayakan melalui tradisi menerangi Kampung atau dikenal dengan ela-ela menjadi momentum istimewa yang disambut dengan suka cita oleh seluruh masyarakat Desa Gufasa.
“Torang berharap semoga pada momentum ini dapat menyatukan semua suku maupun ras masyarakat yang berdomisili di Desa Gufasa.” tutur Fahri.
Selain itu menurut Kepala Desa, Gufasa M Dahri S. Takome, bahwa kegiataan ini diselenggarakan oleh seluruh pemuda Desa Gufasa yang terhimpun dalam Karangtaruna Desa Gufasa.
“Mereka (Pemuda Desa Gufasa) menyiapkan kegiatan ini hanya dengan waktu empat Hari. Ini tentu adalah prestasi yang membanggakan. Ditengah kesibukan dibulan puasa pemuda-pemudi Desa Gufasa masih sempat memikirkan membangun desanya dengan pelestarian budaya dan agama, sebagai Kepala Desa, tentu saya sangat bangga dengan kerja teman-teman pemuda.”
Dahri menambahkan, bahwa pada kesempatan ini agenda perayaan malam Lailatul qadar dimulai dengan pembakaran obor yang diwakili oleh Imam mesjid An Nur Gufasa, beserta seluruh perwakilan suku yang berdomisili di Desa Gufasa. Pembakaran obor pertama diselenggarakan di depan halaman Masjid An Nur Desa Gufasa.
“Kami berharap keterwakilan semua suku ini menjadi simbol dari kerukunan warga masyarakat Desa Gufasa. Kerukunan dan kedamaian ini ingin kami bangun berdasarkan pada warisian budaya dan agama (Islam) yang sejak dulu telah diterapkan di Desa Gufasa,” imbuhnya.
Penulis : Tim
Editor : Redaksi











