SALOIPOST.Id – Melontar jumrah merupakan bagian dari rangkaian ibadah haji umat Muslim. Menurut Kepala Bidang Bimbingan Ibadah dan Pengawasan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Ali Rokhmad, melontar jumrah mengandung filosofi memerangi sifat trilogi thagut dalam diri manusia, yakni Qarun, Bal’am, dan Fir’aun.
“Trilogi thagut atau 3 karakter thaghut ini akan selalu ada di setiap zaman, kaum, dan struktur masyarakat di setiap bangsa dan Negara,” terangnya.
“Paham ini, menjadi subur ketika kepemimpinan tidak dipandu syariat Allah SWT,” tambahnya.
Ali menyebut, memerangi tiga sifat tersebut dijelmakan dalam 3 bagian, yaitu jumrah Ula (pertama), jumrah Wustha (tengah), dan jumrah ‘Aqabah (terakhir). Ali menjelaskan, jumrah Ula berarti melempar sifat-sifat Qarun dari dalam diri manusia.
Sifat-sifat tersebut, kata Ali, seperti sifat ‘ujub’ yang mengagumi diri sendiri sebagai orang yang ahli mendapatkan harta kekayaan, lalai bersyukur’ kepada Allah ataupun lalai berterima kasih kepada orang-orang pernah berjasa.
Kemudian ‘pelit atau bakhil’ mengeluarkan harta untuk membantu fakir miskin, dan enggan membantu perjuangan di jalan Allah, sifat ‘pamer’ yang suka mengoleksi barang yang tidak perlu di rumahnya, sekadar untuk menunjukkan bahwa dirinya kaya

Selanjutnya, sifat ‘tamak’ yang tidak merasa cukup dengan harta kekayaan yang dimilikinya. Angan-angannya sering mengatakan, “Kapan aku lebih kaya seperti orang itu?”
Kemudian sifat ‘westernisasi’ dalam cara hidup, makan-minum, berpakaian, hiburan, dan sebagainya, serta sifat suka ‘menghitung-hitung’ harta yang akan dan telah disedekahkan di jalan Allah.
Sementara jumrah Wustha, menurut Ali merupakan simbol membebaskan diri dari sifat-sifat Bal’am, seperti sifat ‘menjilat’, ‘menjual’ ayat dan kebenaran demi masalah dunia yang hanya sementara
Berikut, sifat menghalalkan segala cara demi mendapatkan keinginan duniawi serta kehormatan sesaat, dan sifat ‘perselingkuhan’ ruhani Bal’am yang menggadaikan tugas dari Nabi Musa kepada Raja Madyan dengan kedudukan, pangkat, dan istri cantik dari sang raja.
Adapun Jumrah Aqabah, menurut Ali merupakan simbol melemparkan sifat-sifat Fir’aun dalam diri jamaah, seperti sombong dan durhaka, selalu menyekutukan Allah, mendustakan agama, sifat ‘dzalim’ terhadap istri sehingga tega memukul, memenjarakan, bahkan membunuhnya, serta sifat suka ‘menumpuk-numpuk’.
Ketika sakit, ia minta ampun kepada-Nya. Tapi giliran sembuh, ia lupa apa yang telah menimpanya. “Lemparkan sifat ‘tidak segera bertaubat’ hingga akhirnya meninggal dalam keadaan su’ul khatimah,” tutur Ali Rokhmad.
Menurut Ali, setelah selesai melontar jumrah, diharapkan agar jamah haji dapat membuang semua sifat-sifat Qarun, Bal’am, dan Fir’aun, dan menggantinya dengan sifat-sifat Nabi Adam, Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan Nabi Muhammad SAW, yang kesemuanya merupakan sifat atau akhlak terpuji

“Melontarkan sifat iblis dan setan akan melahirkan sifat tawadlu (rendah hati) dalam diri, pribadi yang selau bertaubat kepada Allah SWT, bersyukur, qana’ah dengan apa yang diberikan Allah SWT,” jelasnya.
Ali kembali menegaskan, memerangi iblis dan setan bukan karena ingin membunuhnya, melainkan berupaya agar godaannya tidak bisa menembus diri manusia.
“Sampai kiamat, iblis tidak akan pernah mati. Jadi, percuma saja kalau kita ingin membunuhnya. Maka, yang harus kita bunuh adalah sifat-sifat iblis dan setan yang ada dalam diri kita,” pungkasnya
Ali berharap ibadah haji dapat melahirkan sifat-sifat yang baik sebagai bagian dari pendidikan karakter bagi bangsa Indonesia menuju revoluisi mental dalam beragama.
| Editor: Tim Redaksi
Sumber rujukan: Situs Kemenag RI (24/9/2015)











