SALOIPOST.Id – Peneliti Universitas Indonesia (UI), Endah Triastuti mengatakan melalui hasil risetnya, meski sebagian netizen memahami isu terkait seksualitas, namun mayoritas masih belum memiliki pengetahuan yang mendalam sehingga dapat memunculkan salah paham terkait hal tersebut.
Hal ini disampaikan setelah dirinya melakukan riset etnografi digital (belum dipublikasikan) yang mengurai data percakapan di Instagram, Twitter, dan Youtube terkait salah satu video “GirlsClass” dari Voox. Analisis data berjalan pada 17-22 Juni 2022 menggunakan mesin pengumpul data daring, Netlytic dan NVivo.

Menurut Endah, kurangnya pengetahuan terhadap hal tersebut, terlihat setidaknya melalui tiga hal dalam konten dan obrolan para influencer: 1) salah memahami apa itu edukasi seks, 2) hanya fokus pada sebatas konsekuensi keagamaan dari praktik seks yang berisiko, dan 3) rendahnya pengetahuan terkait infeksi menular seksual (IMS).
Konten yang berjudul “GirlsClass” ini, katanya, menampilkan beberapa influencer yang berbagi pengalaman seksual mereka (para influencer), mulai dari kiat masturbasi hingga menjalin relasi Friends With Benefits (FWB) atau hubungan seks kasual dengan seorang teman).
“Menanggapi ini, kata Endah, netizen hingga seksolog mengkritik isinya yang minim pendidikan seksual dan lebih fokus pada ‘pamer’ pengalaman seksualitas,” jelasnya.
Endah menerangkan, dalam analisis data risetnya, dia mengamati sampel obrolan antara influencer dalam video Voox sebagai berikut:
Tanya: “Apa sih alasan kalian mau ONS-an (One Night Stand, atau hubungan seks semalam)? Karena fisik atau sebatas mabok terus sange?”
Jawab: “Ya sange aja sih sebenernya – efek alkohol gitu kan, bikin gerah.”
Ia mengatakan, alih-alih memberikan pemahaman terkait keamanan personal dalam hubungan seks, percakapan di atas justru menggambarkan praktik seksual yang bisa jadi tidak melibatkan persetujuan karena dilakukan di bawah pengaruh alkohol.
“Konten tersebut sekaligus memperlihatkan tidak semua orang yang membuat konten seksualitas di internet punya kapasitas menyampaikan pendidikan seksual secara tepat,” terangnya.
Menurut Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), sebut Endah, pendidikan seksualitas tidak hanya sebatas memberikan informasi terkait organ reproduksi. Pendidikan seksualitas yang baik, lanjut Endah, bersifat komprehensif, yang memiliki setidaknya 7 komponen yaitu kesehatan reproduksi, wawasan terkait gender, hak seksual, hubungan manusia, keberagaman, pemahaman tentang kekerasan, dan kepuasan.

“Yang lebih penting, pendidikan seksualitas tidak mendorong anak dan remaja melakukan kegiatan seksual berisiko,” sebutnya.
Endah kembali menjelaskan, alih-alih menjadi ruang demokrasi untuk mencari informasi yang seringkali tabu dibicarakan antara orang tua dan anak, media sosial dapat mengandung banyak konten dan komentar kaum muda yang bertentangan dengan tujuan pendidikan seksual itu sendiri.
Menurutnya, hal ini mengonfirmasi penelitian terdahulu bahwa kaum muda butuh pelatihan dan arahan tentang cara mendapat informasi terkait seksualitas yang dapat dipercaya. Studi ini sangat penting dalam mendorong masuknya pendidikan seksualitas komprehensif ke dalam kurikulum sekolah, disertai dengan penguatan literasi digital di dalamnya.
“Sayangnya, memberikan pendidikan seksual pada anak dan remaja di Indonesia bukanlah perkara yang mudah,” kata Endah.
Masyarakat Indonesia, papar Enda, banyak yang masih terus memelihara nuansa tabu dalam mendiskusikan seksualitas. Pemerintah dan lembaga negara lain bahkan kerap ikut serta menentang gagasan pendidikan seks bagi anak dan remaja.
“Tapi, jika kita ingin membekali remaja dan orang dewasa muda di Indonesia untuk menghadapi kerentanan seksual mereka – dari IMS, ancaman kekerasan seksual, hingga kehamilan di luar usia layak, maka pendidikan seksual harus jadi agenda prioritas Indonesia,” pungkasnya.
| Editor: Tim Redaksi
Sumber rujukan: Artikel Endah Triastuti, tayang di Portal Conversation, Jumat (1/7/22), Portal RSUP dr. SARDJITO, Portal Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI)











