SALOIPOST.Id, Jakarta – Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati (SMI) mengatakan, APBN sekarang bukan lagi sebagai lokomotif utama untuk pertumbuhan ekonomi, karena mesin pertumbuhan sudah mulai menyala melalui konsumsi investasi dan ekspor. Hal ini disampaikan SMI melalui pemaparan APBN KiTa Edisi Juni 2022, dikutip dari rilis Kemenkeu, Kamis (23/6).
“Pertumbuhan ekonomi tidak tergantung lagi hanya dari sisi APBN, bahkan APBN sekarang bergeser sebagai instrumen untuk menjaga shock, tapi bukan lagi sebagai lokomotif utama untuk pertumbuhan ekonomi, karena mesin pertumbuhan sudah mulai menyala melalui konsumsi investasi dan ekspor,” papar SMI.
Hal ini dapat ditunjukan melalui Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang tetap ekspansif di level 50,8 pada bulan Mei, meski melambat dibandingkan bulan April yang sebesar 51,9. Dikutip dari seputaforex.com, angka indeks PMI tinggi menunjukkan optimisme pelaku sektor bisnis tersebut terhadap prospek perekonomian ke depan.
Selanjutnya, sebut SMI, konsumsi listrik tumbuh positif, ditopang konsumsi listrik industri dan bisnis yang menunjukkan masih kuatnya aktivitas dunia usaha. Optimisme masyarakat juga meningkat pada bulan Mei 2022. Hal ini ditunjukkan melalui peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari bulan April yang sebesar 113,1 menjadi 128,9 pada bulan Mei.
Selain itu, lanjut SMI, mobilitas masyarakat juga terus meningkat seiring terkendalinya pandemi, rata-rata mobilitas pada kuartal II mencapai 18,6, melonjak jauh dari kuartal I yang hanya mencapai 7,1. Sejalan dengan hal tersebut, indeks penjualan riil semakin meningkat, yang diperkirakan mencapai 239,7 pada bulan Mei, dan tumbuh 5,4 persen secara tahunan.
Tercatat, neraca perdagangan masih surplus, pada bulan Mei sebesar USD 2,90 miliar dengan akumulasi sampai dengan Mei sebesar USD 19,79 miliar. Ekspor bulan Mei 2022 mencapai USD 21,5 miliar, didukung peningkatan ekspor migas, sementara impor bulan Mei 2022 mencapai USD 18,6 miliar.
Ekspor-impor masih tumbuh positif secara tahunan dipengaruhi harga komoditas global yang masih tinggi. Cadangan devisa akhir Mei mencapai USD 135,6 miliar. Meski sedikit menurun dibandingkan bulan April, namun masih mencukupi, setara dengan 6,8 bulan impor atau 6,6 bulan impor dan pembayaran ULN pemerintah.
SMI menjelaskan, meski pertumbuhan global terkoreksi signifikan, outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup kuat. World Bank memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2022 dan 2023 masing-masing sebesar 5,1 persen dan 5,3 persen, sementara IMF memprediksi Indonesia akan tumbuh 5,4 persen dan 6,0 persen di periode yang sama.
Menurutnya, konsumsi masyarakat, investasi dan ekspor tumbuh cukup kuat dan menjadi motor pemulihan ekonomi, sehingga konsolidasi APBN dapat terwujud dan berfungsi sebagai shock absorber dan menjaga perekonomian dari tekanan ekonomi global yang masih volatile.
“Situasi yang baik masih bisa kita jaga, walaupun kondisi global sangat-sangat dinamis bahkan cenderung volatile. Kita akan terus mewaspadai pertumbuhan ekonomi kita yang juga dipengaruhi oleh global, dan juga dari sisi komposisi pertumbuhan ekonomi. Dan terakhir, kita harap APBN kita juga semakin kuat dan sehat, untuk kita bisa menjaga perekonomian kita ke depan,” pungkas SMI
| Editor: Tim Redaksi
Sumber rujukan: Siaran Pers Kemenkeu, Kamis (23/6/22), Berita Seputar Forex











